Giring Ganesha naik haji. Vokaslis grup Nidji itu berangkat ke Tanah Suci 30 Nopember 2008. Inilah pengalaman pertamanya ke Tanah Suci. Giring tidak sendiri. Dia berangkat bersama ibu tercintanya, Irmawary. Menurut Giring, dua tahun keinginan itu dipendam. Akunya, baru sekarang ia mendapat panggilan.

"Aku dan ibuku dan keluargaku ingin pengajian dalam rangka ibadah haji. Sebenarnya dari tahun 2007 sudah diajakin sama Ibu, cuma enggak siap, belum ada rezeki juga. Pada akhirnya ada rezeki, aku ajak Ibu berangkat," ujarnya

Ada rasa khawatir yang menggayut di benak Giring untuk menjalankan rukun Islam kelima tersebut. Terutama, kondisi kesehatan ibu tercintanya. Terlebih saat membayangkan lautan manusia yang beribadah di sana.

"Sejujurnya, beberapa hari ini aku susah tidur. Selain kecapekan, juga gimana ya, karena di sana ada enam juta orang yang beribadah, aku khawatir sama Ibu. Badannya kan enggak terlalu besar, sedangkan orang Afrika, orang Arab itu besar-besar. Jadi, aku bingung dan deg-degan menjaga ibuku yang kecil ini," papar  Giring.

Keberangkatan Giring tentu akan berpengaruh kepada jadwal manggung Nidji yang padat.  "Aku sudah ngomong sama manajemen, semenjak dapat jadwal keberangkatan mau naik haji dari delapan bulan yang lalu, dan mana mungkin manajemen menghalangi orang yang mau ibadah," jelasnya.

GIRING ”NIDJI” MERINDING KETIKA BERHADAPAN DENGAN KA”BAH

Giring, vokalis grup band Nidji mengaku merinding sekujur tubuhnya, dari ubun-ubun hingga telapak kaki, ketika pertama kali melihat Ka”bah di Tanah Suci Makkah. Bahkan, pria kelahiran Jakarta, 14 Juli 1983, ini mengaku sempat menitikkan air mata. ”Saat itu saya merasa begitu kecil dan merasa tidak ada apa-apanya di mata Allah,” akunya.

Lelaki yang menunaikan ibadah haji pada 2008 lalu itu menyatakan sangat beruntung bisa melihat dari dekat keindahan Ka”bah. Nidji mengaku sempat khawatir tidak bisa berhadap-hadapan langsung dengan monumen suci umat Islam tersebut.

”Saya sempat takut dan kawatir tidak akan dapat melihat keindahan bangunan suci itu dari dekat, padahal Ka”bah merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah.”

Ada satu pengalaman yang tak pernah bisa terlupakan sepanjang hayat haji muda ini. Ketika berada di Makkah, dia merasa mendapatkan energi yang amat besar. Pasalnya setiap jam bahkan setiap menit, ia menyaksikan ada saja jamaah haji yang salat. ”Jadi, merasa dekat banget sama Allah SWT,” ujarnya.

Ketika menyaksikan jutaan jamaah haji menyemut berjalan menuju satu arah, Giring mengaku hatinya begitu tersentuh. Jutaan manusia tersebut, kata Giring, melakukan semuanya semata-semata hanya untuk Allah,” Meski berada di antara jutaan manusia, alhamdulillah, semuanya berjalan lancar,” ujarnya.

Walaupun tidak sempat mencium Hajar Aswad, pria bernama lengkap Giring Ganesha, tidak begitu menyesal. Sebab, menurutnya, mencium Hajar Aswad bukan hal yang wajib. Ketika berada di Tanah Suci, Giring mengaku lebih fokus kepada ibadahnya, ”Tapi, kalau pegang Ka”bah pernah,” katanya.

Proses religius lah yang justru banyak didapatkan Giring, selama menjalankan ibadah hajinya. Mulai pengalaman menempelkan tangan dan mencium Ka'bah, sampai pengalaman menangis saat 7 kali mengelilingi Kabah dan wukuf di padang Arafah.

"Waktu keliling Ka’bah 7 kali, baru 3 kali gue nangis. Begitu juga waktu di Arafah saat wukuf. Kenapa gue nangis? Gue nangis karena merasa Allah SWT dekat banget. Begitu juga setiap shalat Jumat, gue merasa Ka'bah lapang banget. Gue juga bisa nempelin tangan dan menciumnya," ujar Giring dengan mata yang berkacar-kaca.

Pengalaman itulah yang akhirnya bikin Giring menjadi lebih mawas diri. Giring pun menjadi sadar, kalau dirinya sangat kecil dan merasa telah banyak melakukan hal-hal yang tak sepantasnya di mata Allah.

"Gue berdoa minta ampun dari dosa. Jelas, ini pertama kali dalam hidup gue, melakukan sesuatu karena Allah Swt," papar Giring.

Pengalaman lain yang juga tak pernah terlupakan, ketika dia tergencet di antara jutaan manusia yang tengah melontar jumrah.”Saat itu saya harus melindungi ibu dari desakan jutaan manusia, saya tergencet, tapi berkat pertolongan Allah, alhamdulillah kami selamat,” tambah Giring. Menurut Giring, masih banyak pengalaman menyentuh lainnya selama ia pergi ke Tanah Suci. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi dirinya.

”Pengalaman-pengalaman di Tanah Suci itulah, yang mengajarkan pada saya supaya bisa menjadi orang yang sabar dan selalu pasrah kepada Allah.””Bukan hanya itu, berkat pengalaman-pengalaman berharga itu pula membuat Giring menjadi orang yang selalu berpikiran positif. ””Ketika sampai di Indonesia saya menyadari hidup itu harus penuh dengan rasa syukur, dan setiap melakukan kegiatan semata-mata karena Allah,”” katanya.

GIRING NIDJI RISIH DIPANGGIL PAK HAJI

Meski telah menunaikan rukun Islam yang kelima dan menyandang gelar haji, namun Giring Ganesha atau yang biasa disapa Giring Nidji, merasa tak nyaman bila dipanggil Pak haji. lebih suka bila disapa seperti biasanya, “Cukup Giring sajalah. Banyak teman-teman yang menyapa pak haji,..pak haji.. ah aku malah jadi keki saja kalau ada yang memanggil seperti itu. Menurutnya, tingkat ibadah seseorang tidak ditentukan dari gelar tersebut. "Kalau titel haji enggak lah. Aku pakai hajinya di dalam hati aja, enggak pakai Haji Giring," tuturnya. Semoga menjadi haji yang mabrur.

Bagi penyanyi kelahiran Jakarta 14 Juli 1983 ini, soal gelar atau predikat yang disematkan pada dirinya, bukanlah tujuannya dalam beribadah. Menurutnya, ibadah adalah hubungan antara pribadi dengan Tuhan, bukan karena orang lain. “Kan yang berhaji itu hati, bukan Giring dalam arti fisiknya,” tandasnya.

Lantaran itulah, kata Giring, yang terpenting dari ibadah haji bukanlah gelar yang didapatkannya, melainkan perubahan perilaku sehari-hari. Penyanyi yang mulai suka melantunkan tembang britpop sejak di bangku sekolah menengah pertama itu juga berprinsip, ibadah yang dilakukan akan terasa sia-sia saja bila ternyata tidak ada peningkatan kualitas ibadah.

Giring pun tak berniat mengubah penampilannya. 'Tetap seadanya' begitulah ia menyebut penampilannya selama ini. Sebab, ujarnya, dalam menjalani ibadah baik dalam hubungan antar sesama manusia maupun dengan Sang Khalik, yang terpenting bukanlah penampilan, tetapi niatan yang tulus serta kualitasnya.

Terlebih, Giring juga telah merasakan banyak pengalaman selama menjalani prosesi ibadah haji itu. Dan pengalaman itulah, yang menurutnya, semakin menyadarkan betapa besarnya kekuasaan Tuhan. “Subhanallah, benar-benar aku merasa ada hidayah yang luar biasa. Banyak sekali pengalaman yang terjadi. Itu menyadarkan betapa manusia itu kecil,” terangnya.

Pengalaman dan hidayah itulah yang barangkali semakin menguatkan keyakinan Haji Giring...eh.. Giring Nidji bahwa yang terpenting dalam menjalani perintah Allah dalam rukun Islam yang kelima itu niatan karena Allah bukan karena yang lain.

Jadi, gelar atau sebutan Pak Haji pun, bagi penggemar berat Chris Martin, vokalis kelompok Coldplay, itu bukablah yang terpenting. “Cukup panggil Giring saja,” ulangnya disambung tawa.



PT ARMINAREKA PERDANA SURABAYA
Penyelenggara Perjalanan Umroh & Haji Plus sejak 1990
Izin Umroh D/146 th 2012 & Izin Haji Plus D/230 th 2012
Kantor Perwakilan Surabaya - Jawa Timur
Divisi Marketing Lima Utama Sukses
Konsorsium Juanda Surabaya
Jl. Semolowaru Elok AL 2
031-7111 3345
www.arminarekajatim.blogspot.com

KANTOR PUSAT PT ARMINAREKA PERDANA
Gedung Menara Salemba Lt.V
Jl.Salemba Raya No.05 Jakarta Pusat 10440
Telp: 021.3984 2982, 3984 2964 
Fax : 021.3984 2985
www.arminarekaperdana.com    

About the Author

Nur Anisah Majid S.H., M.Si
Kantor Perwakilan Arminareka Perdana. Jl. Semolowaru Elok AL 2 Surabaya. Telp: SIMPATI: 081-332-99-88-66 (WA), XL: 0878-5180-3366, INDOSAT: 08585-268-5353, PIN BB: NurAnisa, Email: arminarekacabang@gmail.com !

Related Posts

0 komentar