Selasa, 25 Desember 2012

Sejarah Masjid Al-Aqsa Di Jerusalem



SEJARAH MASJID AL-AQSA DI JERUSALEM

Masjid Al-Aqsa, juga ditulis Al-Aqsha di dalam bahasa Arab bermakna "masjid terjauh" adalah salah satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Jerusalem (Jerusalem Timur). Kompleks tempat masjid ini (di dalamnya juga termasuk Kubah Batu) dikenal oleh umat Islam dengan sebutan Al-Haram Asy-Syarif atau "tanah suci yang mulia". Tempat ini oleh umat Yahudi dan Kristen dikenal pula dengan sebutan Bait Suci (Temple Mount), suatu tempat paling suci agama Yahudi yang umumnya dipercaya merupakan tempat Bait Pertama dan Bait Kedua dahulu pernah berdiri.

Dalam peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW diangkat ke Sidratul Muntaha dari tempat ini setelah sebelumnya dibawa dari Masjid Al-Haram di Makkah ke Al-Aqsa. Peristiwa itu terjadi kira-kira pada tahun kesembilan (620 M) dari penyebaran Islam oleh Nabi Muhammad SAW. Di malam yang hening, dengan didampingi Malaikat Jibril, Nabi Muhammad SAW lantas singgah di Al Aqsha dalam perjalanan Isra Miraj untuk menerima perintah shalat. Masjid itu juga adalah bagian dari awal sejarah dimulainya penyebaran agama Islam

Peristiwa Isra' Mi'raj tertuang dalam Al-Qur'an sebagaimana Firman Allah SWT: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Isra : 1)

Ayat di atas adalah bukti kesucian Masjid Al-Aqsa dan Jerusalem, kota tempat masjid itu didirikan sebagai tempat yang disucikan bagi umat Islam sedunia, sebagaimana Makkah yang disucikan karena terdapat Baitullah atau Ka’bah di dalamnya.

Masjid Al Aqsha secara luas dianggap sebagai tempat suci ketiga oleh umat Islam tercatat sebagai salah satu masjid tertua dan memiliki nilai religius tinggi bagi umat Muslim. Nabi Muhammad SAW bersabda : Tidak boleh bersusah payah mengadakan perjalanan kecuali ke tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsa.  (HR. Bukhari no: 1189.)

Sejarah bahkan mencatat, masjid agung tersebut merupakan kiblat pertama sebelum kemudian berganti ke Ka’bah. Terdapat beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, yang menegaskan bahwa selama Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat berada di Madinah, mereka melaksanakan shalat dengan berkiblat ke Masjid Al Aqsha.

Peristiwa itu terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab waktu dhuhur, ketika Nabi Muhammad SAW tengah menunaikan shalat di masjid di Madinah, turunlah firman Allah SWT yang memerintahkan umat Muslim agar memalingkan wajah (berkiblat) ke Masjidilharam. Sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut : “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.  (QS Al Baqarah : 144)

Padahal, ketika turun wahyu tersebut shalat telah berlangsung dua rakaat. Maka begitu mendengar wahyu tersebut, serta merta Rasulullah SAW dan para shahabat langsung memindahkan arah kiblatnya atau memutar arah 180 derajat. Dan peristiwa perpindahan kiblat itu dilakukan sama sekali tanpa membatalkan shalat. Juga tidak dengan mengulangi shalat dua rakaat sebelumnya. Ayat itu sendiri adalah ayat yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang telah lama mengharapkan dipindahkannya kiblat dari Masjidil Al Aqsa ke Masjidil Haram.

Merujuk pada peristiwa tersebut, lalu masjid ini dinamakan Masjid Qiblatain, yang artinya masjid berkiblat dua. (Baca: Sejarah Masjid Qiblatain Madinah). Pada awalnya, kiblat shalat untuk semua Nabi adalah Baitullah di Makkah yang dibangun pada masa Nabi Adam AS (Baca : Sejarah Pembangunan Ka’bah). Sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah di Makkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.. (QS. Ali Imran : 96).

Setelah Nabi Adam AS turun ke bumi, atas arahan Allah SWT, Nabi Adam AS membina rumah ibadah yg pertama di bumi yaitu K’abah lalu bertawaf mengelilinginya. Kemudian, Nabi Adam AS mendirikan Al-Aqsa 40 tahun kemudian. (Baca : Siapakah Yang Membangun Masjid Al –Aqsa). Adapun Nabi Ibrahim AS hanya membangunkan kembali (renofasi) tapaknya yang telah roboh akibat faktor cauca.

Menurut Sejarah of Al Aqsa Mosque karya Kais Al Khalby, Al Aqsa inilah digunakan sebagai tempat bersujud bagi Nabi Ibrahim AS, Siti Sarah, Nabi Ishak AS dan anak turunnya yang menghuni Jerusalem. Disebut juga sebagai Baitul Maqdis/Beteyel/Holy Shrine.

Pasca kelaparan di era Nabi Yusuf AS, keluarga Nabi Yakub AS meninggalkan Baitul Maqdis untuk mengadu peruntungan di Mesir, dan meninggalkan urusan rumah Tuhan kepada suku asli Jerusalem yang kemudian dikenal sebagai suku Filistin. Hampir 400 tahun sejak loss connection antara bangsa Israel dengan Baitul Maqdis dan orang - orang Palestina. Sampai Nabi Musa AS menyelamatkan mereka dari perbudakan Fir’aun dan membawa mereka ke tanah yang dijanjikan.

Dua kurun kemudian Nabi Daud AS memimpin kaum Bani Israel menjadikan Jerusalem sebagai pusatnya. Nabi Sulaiman AS kemudiannya mewarisi takhta Nabi Daud AS dan membina rumah ibadat di kawasan suci ini. Kota ini pernah ditawan dan diperintah oleh terlalu banyak kerajaan dan kuasa – inilah yang menyebabkan bumi As-Syahid ini begitu ‘kaya’ dengan sejarah.

Di masa Nabi Sulaiman AS inilah dibangun sebuah “Masjid” lagi untuk menyembah Tuhan yang mereka sebut sebagai Kuil Sulaiman. Mengingat tempatnya yang lagi-lagi bertempat di Baitul Maqdis sangat mungkin jika Kuil Sulaiman sendiri adalah pemugaran terhadap Masjidil Aqsa yang dibangun Nabi Ibrahim AS.

Di tahun 638 Masehi, Kekhalifahan Islam membentangkan kekuasaannya hingga Jerusalem.  Khulafaur Rasyidin Umar bin Khattab menandatangani kesepakatan dengan Patriakh Kristen Monofisit Sophronius untuk meyakinkan dia bahwa tempat-tempat suci dan umat Kristen Jerusalem akan dilindungi di bawah kekuasaan orang Muslim.  

Di tengah-tengah kawasan ini, terdapat batu di mana berpijaknya Nabi Muhammad SAW ketika peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Di sudut paling selatan kawasan Haram Asy-Syarif (The Noble Sanctuary) ini, terdapat sebuah masjid yang dikenali sebagai Masjid Kubah Kuning (Dome of the rock). Dikenali juga sebagai Masjid Umar merupakan bangunan kayu persegi yang dibangun di atas sisa-sisa bangunan yang dapat menampung 3.000 jamaah. Umar bin Khattab membangun dari Batu Fondasi di Bukit Bait, yang sebelumnya telah ia bersihkan untuk mempersiapkan bangunan masjid. 

Sekitar tahun 690 Masehi, Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Umayyah mempersiapkan pembangunan Kubah Shakhrah (Dome oh the Rock).  Kemudian diikuti dengan pembangunan Masjidil Aqsha yang selesai pada tahun 710 Masehi. Hal ini antara lain berkaitan dengan bertambahnya jumlah jamaah tanpa mengubah bentuk dasar bangunan yang telah berusia sekitar 13 abad. Demikianlah hingga membuat Masjid Al-Aqsa selalu dimuliakan oleh segenap umat Islam.

Kubah Shakhrah (Dome oh the Rock)
Kubah Shakhrah (Dome oh the Rock) inilah yang kemudian diperkenalkan oleh Israel kepada dunia internasional sebagai Masjid Al-Aqsa untuk menipu umat Islam dunia, dan menjauhkannya dari pengetahuan dan pengawasan kaum Muslimin. Kubah ini letaknya di dalam wilayah yang sama dengan Masjid Al-Aqsa atau di area Al-Haram Asy-Syarif.

Tujuan utama media Yahudi menyamarkan Masjid Sakhra (Dome of the Rock) sebagai Masjid Al-Aqsa adalah agar Yahudi bisa menghancurkan Al Aqsa dan membangun “Solomon Temple” (Kuil Sulaiman) pada bekas reruntuhan Al Aqsa.  Umat Yahudi meyakini dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat) bahwa akan datang di akhir zaman seorang yang mereka anggap sebagai dewa penolong Yahudi yang dinamakan “Messiah” (Al Masih, dalam bahasa Arab) apabila mereka mengadakan ritual agama di Solomon Temple dengan mempersembahkan sapi betina berwarna merah (QS. Al Baqarah).

Wallahu'alam bissawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar