Kamis, 27 Desember 2012

Tembok Al-Buraq / Tembok Ratapan Di Jerusalem



TEMBOK AL BURAQ / TEMBOK RATAPAN

Tembok Al-Buraq, merupakan satu bahagian dari dinding atau tembok sebelah barat Masjid Al-Aqsa yang terletak antara Pintu Magharibah di sebelah selatan dan Madrasah Tankaziah (the Syariah Courts) di sebelah utara. Panjangnya ialah 50 meter dan ketingiannya kurang dari 20 meter. 

Ia dikenal dengan nama Tembok Al-Buraq karena Nabi Muhammad SAW mengikat Buraq di tembok tersebut pada peristiwa Isra' dan Mi'raj. Bagi umat Islam, dinding itu merupakan bagian dari dasar Masjid Al-Aqsha dan Masjid Umar (Qubbat As-Sakhrah/Dome of The Rock).

Tembok Al-Buraq / Tembok Ratapan Sisi Barat Masjid Al Aqsa

Tembok Al-Buraq dikenal orang Yahudi sebagai Tembok Ratapan. Orang Yahudi percaya, di tembok itu ada “Shekhinah” (kehadiran Ilahi). Menurut keyakinan Yahudi, berdoa di situ sama dengan berdoa kepada Tuhan.

Kaum Yahudi Berdoa di Tembok Ratapan

Kaum Yahudi kini berdoa di sana dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan. Selain mengucapkan doa-doa, mereka juga meletakkan doa mereka yang ditulis pada sepotong kertas yang disisipkan pada celah-celah dinding itu.

Dinding ini dibagi dua dengan sebuah pagar pemisah (mechitza) untuk memisahkan laki-laki dan perempuan. Orang Yahudi Ortodoks percaya, mereka tidak boleh berdoa bersama-sama dengan kaum perempuan.

Sebuah studi Otoritas Palestina menyatakan kaum Yahudi tidak punya hak atas Tembok Barat (Western Wall) atau “Tembok Ratapan” di Jerusalem.  Penelitian itu ditulis oleh Al-Mutawakel Taha, seorang pejabat senior Kementerian Informasi Palestina di Ramallah. Ditegaskan, Tembok Barat yang disebut juga sebagai “Tembok Al-Buraq” merupakan bagian integral dari Masjid Al-Aqsa dan selalu milik kaum Muslim.

“Tembok ini tidak pernah menjadi bagian dari yang disebut Temple Mount,” tulis Taha. “Tembok Barat itu milik umat Islam dan tidak pernah ada batu di dalamnya yang disebut-sebut peninggakan era Nabi Sulaiman AS. Kepercayaan kaum Yahudi tidak memiliki koneksi ke tembok ini,” jelasnya.

Taha mengatakan, klaim kepemilikan Yahudi atas Tembok Barat itu palsu dan tidak benar. Menurutnya, di bawah pemerintahan Kerajaan Islam di Al-Quds, kaum Yahudi dibenarkan untuk berdoa di tembok tersebut atas dasar toleransi agama. (Baca : Sejarah Masjid Al Aqsha Di Jerusalem)

Wallahu'alam bissawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar