Rakyat Arab Saudi berduka atas meninggalnya Raja Abdullah bin Abdulaziz pada Jumat dini hari waktu setempat. Di usia yang sudah 90 tahun. Raja Abdullah bin Abdulaziz sudah lama mengalami gangguan kesehatan dan terakhir menderita radang paru-paru.

Menjadi raja sejak 2006, almarhum turut berperan membawa perubahan sosial dan ekonomi bagi Arab Saudi, yang dikenal sebagai raksasa produsen minyak dunia. Dikenal berbicara halus dan berpenampilan kalem, Raja Abdullah bin Abdulaziz lahir di istana ayahnya, Raja Abdulaziz Ibnu Saud pada 1924, ungkap Kedutaan Besar Saudi di Washington DC, seperti dikutip kantor berita Reuters.

Raja Abdullah bin Abdulaziz sebenarnya sudah menjadi pemimpin de facto Saudi sejak 1995 saat pendahulunya, mendiang Raja Fahd, mulai terkena stroke. Bagi kalangan diplomat asing, dia dikenal sebagai pemimpin yang taat dan konservatif serta tidak melupakan nilai-nilai suku Bedouin.

Selama memerintah Saudi, Raja Abdullah bin Abdulaziz berupaya mengangkat perekonomian dan perubahan di negaranya dengan meliberalisasi ekonomi untuk menstimulus pertumbuhan sektor swasta. Dia tidak ingin perekonomian Saudi selalu tergantung pada pemerintah.

Di sektor politik, Raja Abdullah bin Abdulaziz dikenal membawa perubahan dengan membentuk suatu dewan keluarga kerajaan (Hay'at al-Bay'ah ) agar suksesi kepemimpinan bisa berlangsung teratur tanpa menimbulkan konflik. Itulah sebabnya, begitu Raja Abdullah bin Abdulaziz wafat, penggantinya sudah disiapkan.

Dia adalah Salman bin Abdulaziz Al Saud, saudara almarhum. Salman bin Abdulaziz Al Saud pun langsung menunjuk saudara tirinya, Muqrin, sebagai putra mahkota dan pewaris kerajaan bila dia sewaktu-waktu wafat.

Selama memerintah Arab Saudi, Raja Abdullah bin Abdulaziz pun memperkenalkan pemilihan bagi para anggota dewan kota. Ini membawa suasana yang demokratis bagi pemerintahan lokal di Arab Saudi.

Perubahan sosial politik di Arab Saudi memang tidak secepat negara-negara lain. Namun perubahan itu yang membuat aja Abdullah bin Abdulaziz menjadi pemimpin yang populer di kalangan muda Arab Saudi, yang jumlahnya kian bertambah. Apalagi 60 persen rakyat Saudi rata-rata berusia di bawah 30 tahun

Raja Abdullah bin Abdulaziz juga menjadi raja pertama yang mau mengunjungi perumahan kumuh di Riyadh pada tahun 2005. Dia pun menyaksikan kehidupan warga miskin di sana. Dia lantas bersumpah akan mengentaskan kemiskinan yang masih melanda sebagian warganya.

Di bidang pendidikan, kerajaan Saudi mendirikan Abdullah University for Science and Technology (KAUST) medio September 2009. Saat itu, estimasi dana pembangunannya mencapai USD 10 miliar atau sekira Rp100 triliun.

Selain dikenal sebagai pusat studi Iptek, kampus ini sarat terlihat ide reformasi ala Raja Abdullah bin Abdulaziz. Tidak ada pembatasan interaksi antara mahasiswa dan mahasiswinya. Bahkan mahasiswi diperbolehkan memakai pakaian sopan, tanpa mewajibkan abaya dan hijab seperti kampus di Saudi lainnya.

Kata feodalisme mungkin telah menghilang dari pemikiran Raja Abdullah bin Abdulaziz. Selain beragam kebijakan tadi, ia juga ingin menggantikan komisi fatwa yang selalu menjadi rujukannya dengan sebuah lembaga pengadilan tinggi hukum formal. Alasannya, ia menginginkan sebuah standar penerapan hukum yang lebih akuntabel dan transparan.

Sebagai realisasinya, Raja Abdullah bin Abdulaziz menyisihkan lebih dari jutaan miliar riyal dari anggaran kerajaan pada tahun 2011. Semuanya demi mewujudkan kondisi perekonomian warganya yang lebih baik. termasuk memberi uang kompensasi bagi para lulusan baru yang tengah mencari pekerjaan. Ia juga menaikkan gaji para pegawai kerajaan, tentara, pengajar, dan kalangan birokrat.

Di sektor swasta, ia mengeluarkan kebijakan pemberian insentif bagi para pelaku bisnis agar perekonomian lebih berimbang.

Dalam urusan penanaman rasa nasionalisme, Raja Abdullah bin Abdulaziz sangat mewanti-wanti rakyatnya agar selalu membela warga Palestina dan Lebanon yang mencari kedamaian di tengah negaranya yang berkonflik. Ia selalu menekankan bahwa umat Muslim mempunyai rasa toleransi tinggi dan menghapus anggapan yang salah kalangan Barat terhadap Muslim.

Kekayaan Raja Abdullah bin Abdulaziz yang mencapai USD 18 miliar menjadikannya sebagai pemimpin ketiga terkaya di dunia.

Sumber: www.dunia.news.viva.co.id, www.news.okezone.com

About the Author

Nur Anisah Majid S.H., M.Si
Kantor Perwakilan Arminareka Perdana. Jl. Semolowaru Elok AL 2 Surabaya. Telp: SIMPATI: 081-332-99-88-66 (WA), XL: 0878-5180-3366, INDOSAT: 08585-268-5353, PIN BB: NurAnisa, Email: arminarekacabang@gmail.com !

Related Posts

0 komentar