Minggu, 24 November 2024

Sejarah Pembangunan Ka'bah


Allah SWT berfirman "Dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail seraya berdo'a : Ya Tuhan kami terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 127).

Sepintas bahwa ayat di atas mengatakan bahwa Nabi Ibrahim as adalah orang yang pertama membangun Ka'bah di permukaan bumi ini, seperti dipahami oleh sebagian kaum muslimin. Padahal bila dicermati, sebelum  Nabi Ibrahim as menginjakkan kakinya ke tanah Makkah sudah ada bangunan Ka'bah yang telah dibangun oleh malaikat dan generasi sebelum  Nabi Ibrahim as. Hal itu dapat dipahami dari kata "Yarfa'u" meninggikan berarti meninggikan bangunan yang suda ada. Para ahli sejarah mengatakan, setidaknya ada dua belas generasi yang ikut berjasa dalam membangun Ka'bah yang ada sampai saat sekarang ini yaitu :

Generasi Pertama: Ka'bah dibangun oleh Malaikat, dua ribu tahun sebelum Nabi Adam as diciptakan, Malaikat sudah membangun Ka'bah di bumi ini atas perintah Allah SWT. Anda bisa baca selengkapnya dalam artikel Siapakah yang Pertama Kali Tawaf di Baitullah? Penjelasan ini sekaligus sebagai bantahan pada orang-orang Nasrani bahwa rumah yang pertama dibangun adalah Baitul Maqdis. Itu generasi pertama pembangunan Ka'bah,

Generasi kedua : Pembangunan dilanjutkan oleh Nabi Adam as setelah dia keluar dari dalam surga, dan menetap di bumi melaksanakan tawaf, dan merenofasi bangunan Ka'bah serta memohon ampun kepada Allah SWT. Atas kekhilafan yang telah dilakukannya. Beliaulah manusia pertama merenofasi bangunan Ka'bah dan tawaf di Ka'bah (Ibnu Abbas Ibid: 37)

Generasi Ketiga : dilanjutkan oleh putra Nabi Adam as bernama Syis, setelah Nabi Adam as wafat. Bangunan ketika itu terdiri dari tanah dan batu, dan bangunan tersebut dapat bertahan sampai Nabi Nuh as. Ketika "Tsunami besar" terjadi pada masa Nabi Nuh as, Ka'bah roboh dan porak poranda. Sampai pada generasi ketiga ini menurut ahli sejarah, tidak dijumpai keterangan di dalam Al Quran dan hadits-hadits Shahih baru

Generasi Keempat : yaitu generasi Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as, dicantumkan sejarahnya di dalam Al Quran di antaranya ayat 127 surat Al Baqarah seperti di bawah judul di atas. Ayat di atas menceritakan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as merenofasi Ka'bah dengan meninggikan pondasi yang tertimbun oleh banjir pada zaman Nabi Nuh as,

Setelah  Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as meletakkan dasar-dasarnya maka dibangunlah rukun-rukunnya. Dan Nabi Ibrahim as mengatakan kepada Nabi Ismail as, ”Wahai anakku, carikanlah untukku batu hitam dari daerah India, dahulunya ia adalah batu yakut yang paling putih. Dahulu batu itu dibawa oleh Nabi Adam as tatkala diturunkan ke bumi dari surga namun kemudian berubah warnanya menjadi hitam karena dosa-dosa manusia. Nabi Ismail as pun membawa sebuah batu namun ia mendapatkan batu hitam itu sudah berada disalah satu sudut. Ia pun bertanya kepada ayahnya, ”Wahai ayahku siapa yang mendatangkan batu itu kepadamu? Nabi Ibrahim as  menjawab,”Dia adalah yang lebih rajin darimu.” Maka mereka berdua membangunnya,

Nabi Ibrahim as dengan dibantu oleh Nabi Ismail as, beliau memulai pembangunan Ka'bah dengan membuat tinggi Ka'bah menjadi 9 hasta, dan lebarnya 32 hasta dari rukun Aswad sampai rukun Syami, yang di sisinya terdapat Hijr Ismail. Beliau melebarkan antara rukun Syami dengan rukun Gharbi (Barat) menjadi 22 hasta, dan antara rukun Gharbi dengan rukun Yamani menjadi 31 hasta, serta antara rukun Yamani dengan rukun Aswad menjadi 20 hasta.

Penulis kitab Tarikhul Ka'bah al Mu'azhamah, Syaikh Husain Abdullah Basalamah menjelaskan,  Nabi Ibrahim as membuat dua pintu untuk Ka'bah dengan ukuran yang sama. Satu dari arah timur dekat Hajar Aswad, dan yang lainnya dari arah barat dekat rukun Yamani. Beliau juga membuat lubang di dalam Ka'bah. Yaitu di sebelah kanan orang yang masuk dari pintu timur yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan harta Ka'bah. Kala itu, Ka'bah belum diberi atap.(Makalah al Ka'bah al Musyarafah Awalul-Bait Wadhi'a lin-Nas, Majalah Haji, Edisi 9 dan 10 Tahun 55 Rabiul Awal dan Rabi'u Tsani 1422H, halaman 35.)

Setelah pembangunan Ka'bah diselesaikan oleh  Nabi Ibrahim as dia berdo'a kepada Allah SWT agar karyanya itu diterima oleh Allah SWT sebagaimana yang difirmankan dalam surah Al-Baqarah 127 ..... "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".

Generasi Kelima : Selanjutnya dilanjutkan oleh suku Amaliqah yang berasal dari Yaman, hampir tidak ada perombakan pada bangunan Ka'bah, karena suku Amaliqah ini hanya memperbaiki yang runtuh dan rusak saja. Sebab itu para ahli sejarah ada yang mengatakan bukan termasuk membangun, akan tetapi pendapat yang lebih meyakinkan,  suku Amaliqah termasuk generasi kelima pembangunan Ka'bah.

Generasi Keenam : Adalah suku Jurhum yang dipimpin oleh raja mereka yang bernama Madhad bin Umar bin Haris bin Madhad bin Umar Al Jurhum. Mereka memperbaiki bangunan yang roboh yang pernah diperbaiki oleh  suku Amaliqah .Imam as Suhailiy berkata,"Dikisahkan, pada zaman  suku Jurhum, Ka’bah dibangun sekali atau dua kali karena banjir yang telah menghancurkan tembok Ka’bah. (Tetapi) ini bukan termasuk melakukan pembangunan, namun hanyalah perbaikan terhadap sesuatu yang diperlukan”.(Raudhul-Unfi, 1/222.)

Generasi Ketujuh : Selanjutnya adalah generasi Qushai bin Kilab dari Bani Kinanah. Beliau adalah seorang raja yang ditaati oleh rakyatnya, As Sakhawi mengatakan,  Qushai bin Kilab  mengumpulkan hartanya yang melimpah dan menghancurkan Ka'bah serta menambah tinggi Ka'bah menjadi 9 hasta dari yang telah dibangun pada zaman Nabi Ibrahim as. Dia juga membuat atap Ka'bah dari kayu pohon ad-dum dan pelepah kurma, sehingga dialah orang pertama yang membuat atap Ka'bah, kemudian dibuka lagi hingga zaman Quraisy. (Dinukil dari makalah al Ka'bah al Musyarafah Awalul-Bait Wadhi'a lin-Nas, Majalah Haji, Edisi 9 dan 10 Tahun 55 Rabiul Awal dan Rabi'u Tsani 1422H, halaman 35 dan 36.)

Generasi Kedelapan : adalah Abdul Muthalib kakek Nabi Muhammad Saw.

Generasi Kesembilan : adalah Suku Quraisy. Pada usia Rasulullah saw mencapai tiga puluh lima tahun, lima tahun sebelum tahun kenabian, Makkah dilanda banjir besar sehingga meluap ke Masjidil Haram dan dikhawatirkan sewaktu-waktu akan dapat meruntuhkan Ka’bah. Orang-orang suku Quraisy merasa bimbang antara merenovasi atau membiarkannya seperti apa adanya.

Akhirnya al Walid bin al Mughirah al Makhzumiy mengawali perobohan bangunan Ka’bah lalu diikuti oleh orang-orang setelah mereka mengetahui tidak terjadi sesuatupun menimpa al Walid. Mereka terus bekerja merobohkan setiap bangunan Ka’bah hingga sampai rukun Ibrahim. Setelah itu mereka siap membangunnya kembali.

Tatkala pembangunan sampai di bagian Hajar Aswad, mereka saling berselisih tentang siapa yang berhak mendapat kehormatan meletakkan Hajar Aswad itu ditempatnya semula. Perselisihan ini terus berlangsung selama empat atau lima hari, tanpa ada keputusan. Bahkan perselisihan itu semakin meruncing dan hampir saja menjurus kepada pertumpahan darah di tanah suci.

Abu Umayyah bin al Mughirah al Makhzumiy datang dan menawarkan solusi dengan menyerahkan urusan ini kepada siapa pun yang pertama kali masuk lewat pintu masjid. Mereka menerima cara ini. Allah SWT menghendaki orang yang berhak atasnya adalah Rasulullah saw. Tatkala mengetahui hal itu, mereka berbisik-bisik, ”Inilah al Amin. Kami ridho kepadanya, inilah dia Muhammad.”

Orang-orang suku Qiraisy kehabisan dana dari penghasilan mereka, maka mereka menyisakan di bagian utara, kira-kira enam hasta, yang kemudian disebut al Hijr atau al Hathim. Mereka membuat pintunya lebih tinggi dari permukaan tanah, agar tidak bisa dimasuki kecuali oleh orang yang memang ingin melewatinya. Setelah bangunan Ka’bah mencapai ketinggian lima belas hasta, mereka memasang atap dengan disangga enam sendi.

Setelah jadi, Ka’bah itu berbentuk segi empat, yang keinggiannya kira-kira mencapai lima belas hasta, panjang sisinya di tempat Hajar Aswad dan sebaliknya adalah sepuluh meter. Hajar Aswad itu sendiri diletakkan dengan ketinggian satu setengah meter dari permukaan pelataran untuk thawaf. Sisi yang ada pintunya dan sebaliknya setinggi dua belas meter. Adapun pintunya setinggi dua meter dari permukaan tanah, di sekeliling luar Ka’bah ada pagar dari bagian bawah ruas-ruas bangunan, di bagian tengahnya dengan ketinggian seperempat meter dan lebarnya kira-kira sepertiga meter. Pagar ini dinamakan Asy Syadzarawan. Namun kemudian orang-orang suku Quraisy meninggalkannya. (Ar Rakhiqul Makhtum hal 84 – 85)

Keistimewaan Bangunan Quraisy :
  • Suku Quraisy membangun Ka'bah sesuai dengan pondasi bangunan Nabi Ibrahim as.
  • Suku Quraisy  mengurangi lebar Ka'bah 6,5 (enam setengah) hasta dari arah Hijr Ismail, sebagaimana sekarang.
  • Menambah ketinggian Ka'bah menjadi 18 hasta.
  • Ka'bah dari sisi Hijr Ismail dijadikannya melingkar, sebagaimana pada pembangunan oleh Nabi Ibrahim as.
  • Suku Quraisy  membangun tembok pendek pada Hijr Ismail.
  • Meninggikan letak pintu dari tanah dan memberikan daun pintu yang dapat dikunci.
  • Menambah atap dan talang air (mizab) untuk mengatur pembuangan air dari atapnya dan dibuang ke arah Hijr Isma'il.
  • Memasang enam tiang penyangga dalam dua barisan di dalam Ka'bah.
  • Bahan yang dipakai untuk membangun tidak hanya susunan batuan saja, tetapi juga dengan menggunakan tanah sebagai perekat.
  • Menghiasi atap dan tembok Ka'bah sebelah dalam, demikian pula dengan tiang-tiangnya. Mereka juga membuat gambar-gambar para nabi, malaikat dan pepohonan. Yang semua ini kemudian dihapus oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada saat Fathu Makkah (Dinukil dari At Tarikhul-Qawim li Makkata wa Baitullah al Karim, 3/40)

Generasi Kesepuluh : Selanjutnya cucu dari Khalifah Abu Bakar Sidik yang bernama Abdullah bin Zubair, putra Asma binti Abu Bakar ra. Abdullah bin Zubair mempertinggi bangunan Ka'bah dari 9 hasta menjadi 27 hasta dan juga meninggikan pintu Ka'bah dan memberi atap Ka'bah dengan rapi.

Abdullah bin Zubair memutuskan perenovasian Ka’bah seperti yang diinginkan Rasulullah saw ketika beliau masih hidup. Dia pun merobohkannya dan membangun kembali serta menambahkan bagian yang masih kurang ketika orang-orang suku Quraisy kehabisan dana dari enam hasta menjadi sepuluh hasta. Dia juga menjadikan Ka’bah memiliki dua pintu, satu di sebelah timur dan lainnya di sebelah barat sehigga orang yang memasukinya dari satu pintu dan keluar di pintu yang lainnya. Dia menjadikannya dalam bentuk yang paling baik dan megah sehingga seperti yang disifatkan Nabi saw sebagaimana diberitakan oleh Aisyah ra ibu orang-orang beriman yang juga bibinya.

"Wahai, 'Aisyah. Kalau bukan karena kaummu baru lepas dari kejahiliyahan, sungguh aku ingin memerintahkan mereka menghancurkan Ka'bah lalu membangunnya, dan aku masukkan ke dalamnya apa yang telah dikeluarkan darinya, dan aku buat pintunya menempel dengan tanah, serta aku buatkan pintu timur dan barat, dan aku sesuaikan dengan pondasi Ibrahim". (Muttafaqun 'alaih, As Sirah an-Nabawiyah fi Dhu'il-Mashadir, halaman 55.)

Al Azraqiy (Tarikh Makkah 1/64) dan Ibnu Hajar (Fat-hul Bari, …) menjelaskan, bahwa Nabi Ibrahim as membangun Ka’bah setinggi 9 hasta, panjang 32 hasta dan lebar 22 hasta tanpa atap. Sedangkan as Suhailiy menjelaskan, bahwa tinggi Ka’bah adalah 9 hasta dari zaman Nabi Ismail as, lalu ketika kaum Quraisy sebelum Islam menambah 9 hasta, sehingga menjadi 18 hasta. Mereka meninggikan pintunya dari tanah, sehingga untuk menaikinya harus menggunakan tangga. Ketika  Abdullah bin Zubair  membangunnya, dia menambah 9 hasta, sehingga menjadi 27 hasta hingga sekarang. (Raudhul-Unfi, 1/221). Demikian juga I Abdullah bin Zubair membuat dua pintu yang menempel ke tanah dari arah timur dan barat, untuk masuk dan keluar. Tinggi pintunya 11 hasta.[23]

Generasi Kesebelas : Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan al Umawiy yaitu pada tahun 74 H, Al Hajaj bin Yusuf ats Tsaqafiy menulis surat kepadanya atas apa yang diperbuat  Abdullah bin Zubair  dengan Ka’bah, tentang perenovasian dan penambahan bagian Ka’bah, Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim (2/972/H 1333/402), pembangunan ini dilakukan karena adanya keraguan Abdul Malik terhadap pendengaran Abdullah bin Zubair, berkaitan hadits Rasulullah saw dari 'Aisyah :

"Kalau bukan karena kaummu baru lepas dari kejahiliyahan atau, kekufuran sungguh aku akan menghancurkan Ka'bah, membuatkan untuknya pintu dan aku tempelkan pintunya ke tanah, serta aku masukkan Hijr Ismail padanya".

Lalu  Abdul Malik bin Marwan al Umawiy membalas suratnya agar mengembalikan Ka’bah seperti sedia kala.  Al Hajaj bin Yusuf ats Tsaqafiy pun merobohkan bagian utaranya dan mengeluarkan al Hijr sebagaimana yang telah dibangun orang-orang suku Quraisy serta menjadikan Ka’bah memiliki satu pintu saja yang lebih ditinggikan serta menutup pintu yang lainnya.

Akan tetapi, kemudian Al Harits bin 'Abdullah bin Abi Rabi’ah menguatkan dan membenarkan pendengaran Abdullah bin Zubair di hadapan Abdul Malik bin Marwan al Umawiy, sehingga menyebabkan  Abdul Malik bin Marwan al Umawiy menyesal telah menghancurkan Ka’bah yang telah dibangun kembali oleh Abdullah bin Zubair

Juga diriwayatkan bahwa, Khalifah Harun ar Rasyid telah berencana untuk menghancurkan Ka’bah dan membangunnya kembali sebagaimana bangunan Abdullah bin Zubair, akan tetapi Imam Malik bin Anas berkata kepadanya: “Aku bersumpah, demi Allah, wahai Amirul Mukminin, janganlah engkau menjadikan Ka’bah ini sebagai permainan para raja setelah engkau, sehingga tidaklah seseorang dari mereka yang ingin merubahnya, kecuali dia pun akan merubahnya, dan kemudian hilanglah kewibawaan Ka'bah dari hati kaum Muslimin,” lalu Khalifah Harun ar Rasyid pun menggagalkan rencana tersebut, sehingga Ka’bah masih tetap seperti itu sampai sekarang ini. (As Sirah an-Nabawiyah fi Dhu'il-Mashadir, halaman 53.)

Generasi Keduabelas : Disempurnakan oleh Sultan Murad Khan IVSyaikh Muhammad Thahir al Kurdi mengatakan, yang memotivasi pembangunan oleh  Sultan Murad Khan IV, yaitu adanya hujan deras yang turun pada pagi hari Rabu, 19 Sya'ban 1039 H di Makkah dan sekitarnya, yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga menyebabkan air masuk ke dalam Masjid al Haram hingga ketinggian 2 meter dari pegangan pintu Ka'bah. Kemudian, pada 'Ashar keesokan harinya, yaitu hari Kamis, dua sisi tembok bagian asy Syami (sebelah utara) Ka'bah runtuh, dan tertarik juga tembok timur sampai pintu Al Syaami dan tidak sisa kecuali itu dan tiang pintunya. Dari tembok barat tersisa seperenamnya. Dari sisi yang tampak ini, hanya sekitar dua per tiganya saja, serta sebagian atap yang sejajar dengan tembok asy Syami (utara) ikut roboh.

Syaikh Abdullah Al Ghazi Al Hindi Al Makki rahimahullah, seorang pakar sejarah, dia mengatakan dalam kitab tarikhnya, bahwa yang roboh dari sisi asy syami (utara) adalah yang dibangun oleh Al Hajaj bin Yusuf ats Tsaqafiy. Demikian juga, tangga ke atap Ka'bah ikut runtuh. Pernyataan ini sesuai benar dengan kenyataannya. Maka setelah mengadakan musyawarah dengan para ulama Makkah,  Sultan Murad Khan IV memerintahkan pembangunan Ka'bah dan dapat diselesaikan pada bulan Ramadhan 1040 H, sesuai dengan bentuk bangunan  Al Hajaj bin Yusuf ats Tsaqafiy. Pembangunan  Sultan Murad Khan IV  inilah yang terakhir, hingga sekarang ini. (At Tarikhul-Qawim li Makkata wa Baitullah al Karim, 3/126-127.)

Demikian sejarah pembangunan Ka'bah yang disampaikan para ahli sejarah Islam. ka’bah hingga hari ini yang tetap kokoh dan menggetarkan setiap orang yang melihatnya. Mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan dan pengagungan kita terhadap Baitullah, al Haram dan kiblat kaum Muslimin yang agung ini. Wallahu'alam bissawab. Sumber : www.waspada.co.id, www.almanhaj.or.id,


PT ARMINAREKA PERDANA SURABAYA
Penyelenggara Perjalanan Umroh & Haji Plus sejak 1990
Izin Umroh D/146 th 2012 & Izin Haji Plus D/230 th 2012
Kantor Perwakilan Surabaya - Jawa Timur
Divisi Marketing Lima Utama Sukses
Konsorsium Juanda Surabaya
Jl. Semolowaru Elok AL 2
031-7111 3345
www.arminarekajatim.blogspot.com

KANTOR PUSAT PT ARMINAREKA PERDANA
Gedung Menara Salemba Lt.V
Jl.Salemba Raya No.05 Jakarta Pusat 10440
Telp: 021.3984 2982, 3984 2964 
Fax : 021.3984 2985
www.arminarekaperdana.com     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar