Hj Umaiyah saat berjualan mainan di lokasi acara jalan sehat Anlene dan Tribun Kaltim, di halaman e-Walk di Jalan Jenderal Sudirman, Balikpapan, Kalimatan Timur, Minggu (11/1/2015).
Seorang perempuan paroh baya. Mengenakan kerudung sepadan dengan baju terusan, warna kuning. Ia menggelar barang dagangan, seperti balon dan mainan anak-anak.

"Sayang anak, sayang anak. Sini sayang, sini cantik, mainan nih. Murah kok bu, saya jual cuma sepuluh ribu," kata Hajah Umayah menjajakan barang dagangannya di arena Gerak Jalan Santai Anlene bersama Harian Tribun Kaltim dan TribunKaltim.co di lapangan e-Walk, Jalan Sudirman, Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (11/1/2015).

Umaiyah meladeni percakapan dengan TribunKaltim.co di sela kesibukan melayani pembeli. "Alhamdulillah pak, saya haji. Saya sudah lima kali naik haji," ujarnya sambil memperlihatkan kartu identitas diri berupa surat izin mengemudi (SIM).

Perempuan usia 48 tahun ini mengaku menunaikan rukun kelima Islam, pertama kali tahun 1987. Kemudian naik haji lagi tahun 1991, 1995, 2000, dan 2002.

"Bapaknya tujuh kali. Waktu hamil, saya tidak ikut," kata Umayah menyebut Haji Abdulhalim, nama suaminya.

Keluarganya tergolong rajin menunaikan ibadah haji. "Setiap ada uang, saya ibadah. Kalau punya uang ibadah, 18 juta umroh, kalau haji 2 tahun kemarin. Ibu saya, saya sih tidak," katanya.

Dia sering menunaikan ibadah sewaktu anak-anaknya masih kecil, sehingga tidak membutuhkan banyak biaya. "Sekarang gantian, saya stop naik haji, tinggal membiayai anak," imbuhnya.

Berdasarkan data tertera di SIM Umayah, dia tinggal di Desa Kedung Waras Kecamatan Modo, RT 001/ RW 001 Lamongan, Jawa Timur

Di desanya, Umaiyah dan Abdulhalim, bertani. "Alhamdulillah, kami punya sawah satu setengah hektare. Sekarang digarap orang. Haji tak boleh bohong, saya haji," katanya sembari menjajakan dagangannya. "Ini murah lho saya jual, cuma 10 ribu."

Umaiyah bersama suami mengontrak rumah seharga Rp 700 ribu per bulan, di kawasan Klandasan, Balikpapan.

Pasangan suami istri itu memiliki tiga anak, yakni Lilik, Abdullah Akbar, Siti Nurjannah. Lilik telah menikah dan kini bersama suami membuka usaha restoran di Kendari.

Adapun Akbar kuliah di Jombang, Jawa Timur. Si bungsu Nurjannah masih sekolah Madrasah Aliyah Negeri di Babat, Lamongan, Jawa Timur.

Dia meninggalkan desa tempat tinggalnya di Lamongan dan menjajal peruntungannya di Balikpapan. Alasannya, ingin cari pengalaman di Balikpapan.

Selain itu, suaminya menderita sakit gejala vertigo dan kolesterol tinggi. Kondisi demikian tidak memungkinkan lagi bekerja di sawah.

Di Balikpapan, mereka berjualan balon dan mainan anak. Dari berjualan itulah, mereka memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan anak-anak. Abdulhalim juga berjualan seperti istrinya.

"Banyak biayanya pak. Uang sekolah uang SPP Rp 200 ribu per bulan. Kalau yang kuliah jarang ngirim saya, karena dia sambil kerja," tuturnya.

Sekejap dia menghentikan perbincangan, melayani seorang anak pembeli balon bermotif kuda warna-warni.

"Alhamdulillah, laris... Laris," katanya sembari mengibaskan uang yang baru diserahkan seorang anak, dikenakan ke barang dagangan.

Hasil berjualan mainan anak tersebut, keuntungan bersih Umaiyah rata-rata Rp 100 ribu per hari. Hari-hari kerja, dia jualan di kawan Balikpapan Plaza.

Sedangkan pada hari Minggu dan hari libur, dia sering mendatangi lokasi-lokasi keramaian, seperti hajatan pernikahan, atau gerak jalan.

Ia rajin mencari informasi dari mulut ke mulut, tanya-tanya kepada teman-teman sesama pedagang asongan.

"Kalau ada kegiatan rame-rame seperti ini, pendapatan lebih banyak. Ya ada lebihnya lah dibandingkan hari-hari," ujar Umaiyah.

Sumber: Senin, 12 Januari 2015, www.tribunnews.com

About the Author

Nur Anisah Majid S.H., M.Si
Kantor Perwakilan Arminareka Perdana. Jl. Semolowaru Elok AL 2 Surabaya. Telp: SIMPATI: 081-332-99-88-66 (WA), XL: 0878-5180-3366, INDOSAT: 08585-268-5353, PIN BB: NurAnisa, Email: arminarekacabang@gmail.com !

Related Posts

0 komentar